MAINSTREAM SCHOOL OF ARTS

Article Index
MAINSTREAM SCHOOL OF ARTS
Kesaksian
All Pages

18 tahun bergerak dalam dunia seni gereja, membuat Mainstream School of Arts semakin mantap dan yakin untuk terus berjalan kepada penggenapan visi yang Tuhan berikan untuk “mengembalikan seni bagi kemuliaanNya dengan membangun persatuan dan kesatuan serta meningkatkan kualitas dan kreativitas.” Ini bukan suatu visi yang mudah untuk dijalankan, karena pada mulanya semua seni diciptakan untuk memuliakan Dia. Untuk itu, Mainstream melengkapi para siswanya tidak hanya dalam masalah teknik, namun juga dalam kerohanian, serta pembentukan karakter.

Keberadaan Mainstream (bernaung di bawah Abbalove Ministries) yang tersebar di beberapa lokasi di Jakarta, yaitu Gunung Sahari, Greenville Maizonette, Gading Serpong, Kelapa Gading dan MT Haryono Square (akan segera dibuka) diharapkan dapat menjadi jawaban seluruh Tubuh Kristus yang ada, dengan jumlah kelulusan hingga kini sekitar 3.000 siswa.

 

Selain kelas regular, Mainstream juga menyediakan program “Modular School” bagi mereka yang mengalami kesulitan waktu belajar. Singkat, padat namun berhasil guna dengan kebebasan dalam menentukan materi pelajaran yang dibutuhkan dan lama waktu pembelajaran serta sesuai dengan kebutuhan dan waktu yang diingini. “Saya ingin mengetahui lebih dalam lagi tentang pelayanan puji dan sembah. Dan alasan inilah yang membawa saya mengambil program modular school (worship leader dan vokal) selama 2 minggu di Mainstream. Saya dibukakan banyak hal tentang pelayanan ini dan diperlengkapi baik teknik maupun secara rohani. Ditambah cerita pengalaman pribadi dari para pengajar, merupakan pelajaran yang sangat berharga sekali.” ujar Lanny Budiman (peserta dari Jawa Tengah).

Dengan kemasan yang didesign khusus serta didukung metode pembelajaran yang menarik dan tidak membosankan, Mainstream telah memberi jawaban bagi seluruh tubuh Kristus dan membantu pekerja/pelayan seni di seluruh Indonesia dengan menyediakan berbagai macam jenis pelatihan (tari, musik, vokal, dll). Mainstream menjadi panutan dalam perkembangan seni tari gereja (khususnya) di Indonesia. Hal ini terbukti dengan banyaknya kerjasama dengan berbagai gereja di Indonesia dan beberapa negara (Malaysia dan Kamboja). Bekerja sama juga dengan Hillsong College, Australia dan International Christian Dance Fellowship untuk menambah perbendaharaan dan corak warna penyelenggaraan seminar workshop dan perkembangan seni dalam gereja, tentunya. Kesuksesan pengadaan acara Break The Wall (NAM Centre - 2004), Build My House (ICC Mega Glodok Kemayoran - 2008), Indonesia di Atas Panggung (TIM - 2010), dll serta juara 1 kategori tamborin sebanyak 3x berturut-turut dalam Lomba Cipta Koreografi se-Indonesia, membuktikan bahwa kehadiran dan pengaruh Mainstream sangat dinantikan. Mainstream tidak hanya berdampak pada dunia gereja, namun juga dunia non-gereja dengan berpartisipasi dalam berbagai acara yang diselenggarakan oleh Pertamina, Matahari Grup, Citibank, RCTI, MPR/DPR, dll.

Tak ketinggalan pula, Tuhan juga memakai Mainstream Shop & Gallery untuk menyokong pelayanan dunia seni dengan menyediakan segala keperluan tari dan musik, seperti kostum tari, tamborin, sepatu balet/jazz, kipas sutra, keyboard, drum set, gitar, buku pelajaran dan vcd musik dan tari, dll. “Saya sudah berdoa sejak lama untuk kostum tari dan sepatu balet, karena kami sangat membutuhkannya disini. Dan saya sangat terkejut karena ternyata kedatangan tim Mainstream juga ingin memberikan beberapa kostum dan sepatu balet. Saya senang sekali karena Mainstream membawa doa saya menjadi kenyataan.” ucap Ay Ling (misionaris Indonesia di Kamboja)

Mainstream ada untuk menjadi kepanjangan tangan Tuhan dalam bidang seni. Mainstream tidak hanya sekedar menjalankan visi sebagai sebuah tugas belaka untuk mencetak pekerja/pelayan seni yang asal, tetapi menerima dan melakukan visi sebagai suatu kehormatan yang luar biasa atas kepercayaan yang Tuhan sudah berikan untuk melakukan isi hatiNya dalam bidang seni.

Arts for Jesus!!!


Mainstream telah memberi dampak positif

“Awal saya mengenal Mainstream School of Arts melalui sebuah seminar yang diadakan di Jakarta tahun 2002. Semenjak itu, saya selalu mengikuti setiap acara yang diadakan oleh Mainstream (seminar/workshop/pagelaran seni) karena bagi saya Mainstream bukan sekedar tempat pelatihan talenta, namun juga merupakan keluarga rohani saya (sebagai mentor/fasilitator) dalam mengembangkan pelayanan kreatif dan juga menjadi pembimbing rohani saya secara pribadi untuk menjadi pribadi yang kuat dan berkarakter Kristus.

Mendengar impartasi secara langsung dari tim Mainstream tentang visi yang diembannya, tahun 2003, saya beserta beberapa rekan penari sepakat untuk membentuk jaringan Penari Sekota Semarang (Central Java Dancers & Worshippers), karena kami memiliki kerinduan terjadinya kesatuan tubuh Kristus di Semarang lewat penari dan visi ini dapat terjadi juga di kota kami. Kami terus berkembang dengan dukungan Mainstream, mulai dari pembentukan dan perumusan visi ataupun sebagai pembicara/pengajar di berbagai acara yang kami lakukan.

Tahun 2005 dan 2010, saya diutus oleh gereja lokal untuk mengikuti program “modular school”, yang semakin membukakan saya tentang pelayanan kreatif untuk memberi dampak bagi komunitas, kota, dan bangsa. Terima kasih Mainstream, telah memberikan banyak dampak positif bagi seluruh pelayan-pelayan kreatif dan bagi seluruh pelaku seni di kota Semarang.” (ANNE WIDJAJA – GBI GAJAH MADA, SEMARANG)

Sandra menjadi mandiri sejak di mentor oleh Mainstream
“Pertama kali Sandra belajar di Mainstream (saat itu masih playgrup), Sandra termasuk anak yang pemalu dan tidak percaya diri. Setiap kali dia kedatangan teman barunya di kelas, Sandra merasa tidak aman, menangis dan akhirnya tidak mau mengikuti kelas.

Saya bersyukur bahwa ada guru-guru yang mau membujuk dan memberi pengertian dengan sabar kepada anak saya. Berjalannya waktu, Sandra mengalami banyak kemajuan, perkembangan teknik dan mental Sandra bertumbuh sangat pesat sejak diikutsertakan dalam acara pagelaran seni Indonesia di atas Panggung (November 2010).

Saya melihat kerohanian Sandra yang berkembang pesat sejak adanya mentoring yang dilakukan di luar jam belajarnya. Sandra menjadi mandiri, tidak pernah takut bertemu orang baru, lebih mudah akrab dengan orang dari berbagai umur, dapat menari dengan spontanitas, tahan terhadap situasi yang tidak sesuai harapannya dan semakin dekat kepada Tuhan. Saya sangat senang, Sandra sudah dapat melayani di ibadah ataupun acara KKR.” (Try Pozia, orang tua dari Sandra Gunawan)

  • Metanoia Publishing
  • Metanoia Publishing
  • Metanoia Publishing