Character

Menjadi pribadi yang mau bekerjasama

Tak seorang pun benar-benar bisa jadi superman

Almarhum Christopher Reeve menjadi sangat terkenal ketika ia memerankan tokoh Superman. Superman menjadi tokoh fantasi idola anak-anak sedunia karena kehebatan dan kekuatannya yang tak terkalahkan. Ia digambarkan senang menolong dan selalu menang atas berbagai kejahatan. Namun, di akhir hidupnya Reeve mengalami kecelakaan hebat yang mengakibatkan ia lumpuh total. Tetapi, semangatnya tak terpadamkan, dan dengan bantuan istri, keluarga, rekan-rekan dan peralatan medis, ia sanggup menjadi seorang sutradara film. Apa yang dapat kita petik dari peristiwa ini? Tak seorang pun benar-benar bisa menjadi superman. Kita semua ternyata saling membutuhkan. Kekuatan dan kehebatan terletak dari kerja sama dan sinergi yang harmonis.

 

Menjadi pribadi yang menepati janji

Tuhan Menjadi Teladan

Tepat janji adalah sifat Tuhan sendiri, Dia telah menjadi teladan bagi umatNya agar kita pun tepat janji. Salah satu contoh yang paling jelas adalah matahari. Kita tahu pasti bahwa besok pasti matahari akan terbit, karena kita percaya bahwa Tuhan pasti tepat janji. Demikian pulalah kita perlu tepat janji. Seharusnya anak kita bergembira ketika kita berjanji akan mengajaknya pergi berlibur ke luar kota, karena dia percaya bahwa ayah/ibunya pasti tepat janji. Inilah sifat Tuhan: tepat janji. Jika kita ingin menjadi seperti Kristus, teladani sifat tepat janjiNya.

 

Tepat Janji Lahir dari Kebenaran

Tidak ada seorang pun yang dengan sengaja ingin tidak tepat janji, kecuali di dalam dirinya tidak ada kebenaran. Kebenaran dibutuhkan agar kita bisa tepat janji. Apa itu kebenaran? Kebenaran adalah Firman Tuhan, yaitu Tuhan sendiri. Tepat janji bagi Tuhan adalah salah satu sisi kebenaranNya. Dia tidak mungkin mengingkari janjiNya sendiri, karena Dia adalah benar. Jika kita tinggal di dalam jalan Tuhan dan FirmanNya ada di dalam kehidupan kita, kita tidak akan kesulitan untuk tepat janji. Sebaliknya, jika tidak ada kebenaran dalam hidup kita, tentulah akan sulit dan semakin sulit untuk tepat janji. Maka, mintalah pertolongan dan anugerah, rahmat dan kasih karunia dari Tuhan, agar kita mampu hidup dalam kebenaran dan berlaku tepat janji sebagai hasilnya.

 

Menjadi pribadi yang waspada

Kewaspadaan menipis ketika kita merasa aman

Masih ingatkah kita pada peristiwa tenggelamnya kapal Titanic? Dengan desain dan rancangan yang luar biasa hebat di awal abad ke 20, Titanic berlayar dengan megah di tengah lautan Atlantik. Semua yang menyaksikannya berdecak kagum. Dalam hati kecil mereka, semua sepakat dengan sang kapten bahwa tidak satu pun kekuatan alam yang mampu menenggelamkan si raksasa Titanic.

Keyakinan sepihak yang semakin menebal ini tanpa disadari akhirnya menyiratkan aroma keangkuhan. Semua begitu terlena dengan kemegahan dan keperkasaan Titanic yang kasat mata. Kewaspadaan menipis dan kesiagaan pun sirna. Di tengah kegelapan malam di Samudera Atlantik, tampak di sana-sini bongkahan es berwarna putih kemilau. Terapung-apung lepas seakan menari-nari di permukaan laut.

 

Menjadi pribadi yang mau memperbaiki kesalahan

Malam kelam mencekam. Suasana itu tak seperti biasanya di Taman Getsemani. Nyala api obor menari-nari di tengah kegaduhan banyak orang. Mereka membawa pedang dan pentung mencari-cari Yesus, hendak menangkapNya. Lalu tampaklah Yudas menciumNya. Yudas, murid yang telah menyerahkan Dia. Serentak orang banyak mengepung dan menangkap Yesus. Akhirnya tragis. Yudas mati menggantung diri, bahkan sebelum Yesus disalibkan. Yudas menyesali kesalahannya, tetapi sayang responsnya sangat keliru. Ia menghakimi dan menghukum dirinya sendiri.

Kisah lain terjadi pada Petrus, seorang murid yang selalu bersama dengan Yesus. Petrus yang heroik dengan lantang berjanji bahwa ia tak akan mengkhianati guru yang dikasihinya. Tetapi apa daya, demi menyelamatkan diri ia tega mengutuk dan bersumpah menyangkali gurunya. Pada dini hari itu, kokok ayam segera mengingatkannya akan kata-kata Yesus. Dengan lunglai laki-laki dewasa itu menangis dengan pilu. Hancur semua yang dibanggakannya. Ia menyadari kesalahan besar yang telah dibuatnya. Namun kemudian pada hari setelah kebangkitanNya, di Danau Tiberias Yesus secara khusus berdialog dengan Petrus. Yesus mengetahui penyesalan hati Petrus. Ia memulihkan hati Petrus dan sekali lagi mengucapkan kata-kata yang dulu juga pernah diucapkanNya, “Ikutlah Aku!”  Yesus mempercayakan jemaatNya kepada para rasul dan menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Akhir yang mulia.

 

Menjadi pribadi yang dapat menguasai diri

Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan.

Orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota.

Apa akibatnya jika kita tidak dapat menguasai diri?

Tanpa penguasaan diri, jelaslah yang akan terjadi di hari-hari terakhir. Orang-orang akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi sangat materialistis. Mereka akan membual dan menyombongkan diri. Suka memfitnah, memiliki sifat pemberontak dan tidak tahu berterima kasih. Mereka tidak memedulikan nilai-nilai moral, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang lain, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, dan lebih menuruti hawa nafsu daripada menuruti kebenaran Allah.

 
More Articles...

GOD's ETERNAL PURPOSE

Abbalove Monthly Updates

CINTA INDONESIA

  • Metanoia Publishing
  • Metanoia Publishing
  • Metanoia Publishing