Character

The Power of Compassion

Belas Kasihan: Perasaan atau Akal Sehat?
Percaya atau tidak, sebenarnya kita semua mempunyai rasa belas kasihan. Masalah sebenarnya bukanlah tidak ada rasa belas kasihan, melainkan betapa seringnya perasaan kita ternyata dimanfaatkan oleh orang lain. Kita lalu merasa kecewa atau bahkan sakit hati. Akibatnya, timbul rasa enggan untuk mengikuti dorongan hati kita di waktu-waktu selanjutnya. Daripada sakit hati nantinya, lebih baik menghindar dan tidak usah peduli saja.

Ada pula orang- orang yang menolong orang lain dengan ekspresi yang cool . Bagi orang seperti ini, berbuat baik atau menolong orang lain sama saja dengan melakukan tugas atau kewajiban. Yang penting, apa yang dilakukan itu masuk akal dan bermanfaat bagi orang lain yang ditolong . Namun ,tidak jarang juga, orang seperti ini menolong dengan sikap yang menuntut pamrih.

 

THE WISE DECISION MAKER

Berapa banyak keputusan yang harus diambil?

Hidup kita sebenarnya dipenuhi dengan berbagai pilihan dan keputusan. Masa hidup kita dibentuk oleh pilihan-pilihan yang diambil di sepanjang usia kita. Menurut penelitian, setiap hari kita diperhadapkan dengan minimal 500 keputusan, besar ataupun kecil. Mungkin kita sering menganggap sepele dan meremehkan sebuah keputusan kecil, tetapi jangan salah, ternyata apa yang dianggap sepele dapat mempengaruhi berbagai situasi dan keputusan-keputusan besar di masa mendatang.

Sikap kita dalam mengambil sebuah keputusan sangat menentukan keberhasilan maupun kegagalan kita. Suatu keputusan yang tepat akan mendatangkan manfaat, keuntungan, kebahagiaan dan kesuksesan. Sebaliknya, sebuah keputusan yang keliru menimbulkan berbagai kesulitan, hambatan, kekecewaan, bahkan membuahkan kegagalan. Tentu saja, tidak seorang pun di antara kita yang ingin salah dalam mengambil keputusan.

 

 

 

Menjadi Teladan

Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.

Ketika Yesus berkata, “Kamu adalah garam dunia… Kamu adalah terang dunia...” perkataan itu adalah karena dunia berada dalam kegelapan dan sedang mengalami proses pembusukan. Alangkah sedihnya jika garam menjadi tawar dan terang menjadi pudar. Tidak ada lagi gunanya selain dibuang diinjak orang. Rasul Paulus memberi mandat penting kepada Timotius agar ia menjadi teladan. Usia Timotius yang relatif muda bukanlah penghalang untuk menunjukkan kualitas kedewasaannya secara rohani. Paulus mendorong dan meneguhkan Timotius karena ia memiliki tugas penting untuk membangun jemaat di Efesus, kota yang terkenal dengan penyembahan berhala dan berbagai pengajaran sesat. Bagaimana dengan kita? Setiap hari kita mendengar berita dan melihat situasi yang buruk terjadi di mana-mana. Apakah kita tetap tinggal sebagai penonton yang baik sambil menggeleng-gelengkan kepala dan berdecak kasihan? Sadarkah kita bahwa kita bisa memberi kontribusi penting untuk menjadi garam dan terang dunia serta untuk menjadi teladan di lingkungan kita masing-masing? Mengapa selama ini kita sulit menjadi teladan?

 

Menjadi pribadi yang mau bekerjasama

Tak seorang pun benar-benar bisa jadi superman

Almarhum Christopher Reeve menjadi sangat terkenal ketika ia memerankan tokoh Superman. Superman menjadi tokoh fantasi idola anak-anak sedunia karena kehebatan dan kekuatannya yang tak terkalahkan. Ia digambarkan senang menolong dan selalu menang atas berbagai kejahatan. Namun, di akhir hidupnya Reeve mengalami kecelakaan hebat yang mengakibatkan ia lumpuh total. Tetapi, semangatnya tak terpadamkan, dan dengan bantuan istri, keluarga, rekan-rekan dan peralatan medis, ia sanggup menjadi seorang sutradara film. Apa yang dapat kita petik dari peristiwa ini? Tak seorang pun benar-benar bisa menjadi superman. Kita semua ternyata saling membutuhkan. Kekuatan dan kehebatan terletak dari kerja sama dan sinergi yang harmonis.

 

Menjadi pribadi yang menepati janji

Tuhan Menjadi Teladan

Tepat janji adalah sifat Tuhan sendiri, Dia telah menjadi teladan bagi umatNya agar kita pun tepat janji. Salah satu contoh yang paling jelas adalah matahari. Kita tahu pasti bahwa besok pasti matahari akan terbit, karena kita percaya bahwa Tuhan pasti tepat janji. Demikian pulalah kita perlu tepat janji. Seharusnya anak kita bergembira ketika kita berjanji akan mengajaknya pergi berlibur ke luar kota, karena dia percaya bahwa ayah/ibunya pasti tepat janji. Inilah sifat Tuhan: tepat janji. Jika kita ingin menjadi seperti Kristus, teladani sifat tepat janjiNya.

 

Tepat Janji Lahir dari Kebenaran

Tidak ada seorang pun yang dengan sengaja ingin tidak tepat janji, kecuali di dalam dirinya tidak ada kebenaran. Kebenaran dibutuhkan agar kita bisa tepat janji. Apa itu kebenaran? Kebenaran adalah Firman Tuhan, yaitu Tuhan sendiri. Tepat janji bagi Tuhan adalah salah satu sisi kebenaranNya. Dia tidak mungkin mengingkari janjiNya sendiri, karena Dia adalah benar. Jika kita tinggal di dalam jalan Tuhan dan FirmanNya ada di dalam kehidupan kita, kita tidak akan kesulitan untuk tepat janji. Sebaliknya, jika tidak ada kebenaran dalam hidup kita, tentulah akan sulit dan semakin sulit untuk tepat janji. Maka, mintalah pertolongan dan anugerah, rahmat dan kasih karunia dari Tuhan, agar kita mampu hidup dalam kebenaran dan berlaku tepat janji sebagai hasilnya.

 
More Articles...

GOD's ETERNAL PURPOSE

Abbalove Monthly Updates

CINTA INDONESIA

  • Metanoia Publishing
  • Metanoia Publishing
  • Metanoia Publishing