Movement News

Berjumpa dengan Kerajaan Allah

Sepanjang tahun 2017 ini, kita akan berfokus untuk membangun ekklesia dan diutus untuk menghadirkan Kerajaan Allah di dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana cara memulainya? Kita akan mencontoh apa yang dipraktikkan oleh rasul-rasul ketika Yesus mulai membangun dasar gerejaNya selama tiga tahun pelayananNya di bumi. Kita tahu bahwa Yesus meminta rasul-rasulnya mempraktikkan empat hal sebagai pola dasar ekklesia: Kerajaan, murid, masyarakat, dan gereja. Keempat gaya hidup inilah yang dilipatgandakan rasul-rasul kepada semua jemaat mula-mula dan diteruskan kepada kita sekarang. Bagaimana Yesus memulai keempat gaya hidup itu? Ia memulainya dengan menyatakan KerajaanNya, lalu memanggil murid-muridNya untuk mempraktikkan komunitas sepakat (“kompak”) yang diutusNya untuk memenangkan jiwa dan melakukan transformasi di tengah-tengah masyarakat. Setelah itu, barulah Yesus mendapatkan ke-12 murid yang akan dibangunNya menjadi GerejaNya (ekklesia) (Mat. 4-10).

 

Hidup itu lebih penting dari makanan

“Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan?” “Aku berkata kepadamu: Janganlah khawatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah khawatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?” (Mat. 6:24-25)

Ini adalah perkataan Yesus yang tegas kepada banyak orang termasuk murid-muridnya, supaya mereka tidak khawatir dalam hidup ini. Kita tahu bahwa kita bisa hidup tanpa memiliki rumah. Tanpa ponsel. Tanpa ranjang. Tanpa liburan. Tetapi, kita tidak bisa hidup tanpa makanan. Kita harus makan agar hidup. Kalau tidak makan selama sehari atau dua hari, badan kita lemas dan kita bisa jatuh sakit. Kalau tidak makan sebulan atau lebih, kita bahkan bisa mati. Makanan begitu penting sehingga kita makan secara teratur tiga kali sehari. Ke mana saja kita pergi, termasuk ke luar negeri atau ke luar kota, hal utama yang kita perhatikan adalah makanan. Makanan enak adalah sesuatu yang dikejar. Setiap hari di otak kita selalu ada pertanyaan “mau makan apa” atau “mau makan di mana”. Tetapi, Yesus justru berkata bahwa hidup itu lebih penting daripada makanan. Mengapa demikian?

 

 

My Father's Business: Ekklesia Go

Sejak awal tahun 2016, kita sudah belajar bahwa esensi Gereja adalah EKKLESIA, yaitu suatu kumpulan orang-orang yang dipanggil keluar dari kerajaan kegelapan dan dibangun menjadi tempat kediaman Allah (tubuh Kristus, keluarga Bapa, bait Roh Kudus), untuk memerintah bersama Kristus serta memperluas kerajaan Allah di bumi. Kali ini, kita akan mempelajarinya lebih dalam dan mempraktikkannya bersama-sama, melalui pengalaman pencerahan yang dialami di Abbalove KTC.

 

GEREJA adalah EKKLESIA

Gereja bukanlah seperti tempat pengisian bahan bakar (SPBU) atau lubang pengisi daya listrik, yang hanya berfungsi untuk jemaat mengisi energi hati yang sudah kosong dengan berkat Tuhan. Gereja juga bukan seperti bioskop sehingga jemaat datang hanya untuk mendapatkan hiburan rohani yang menarik, atau seperti hipermarket yang membuat jemaat berharap dapat dilayani semua kebutuhan hidupnya dengan datang ke satu lokasi saja.

 

The Last Reformation

The Last Reformation adalah sebuah gerakan baru yang dimulai sejak tahun 2011 lalu tersebar ke seluruh dunia. Gerakan ini adalah mengenai kembalinya Gereja ke masa Kisah Para Rasul, yang relevan untuk kekristenan di zaman sekarang ini. Gereja didorong untuk kembali kepada konsep awalnya (penginjilan dan pemuridan), dan inilah sebabnya mengapa gerakan ini disebut the Last Reformation.

Reformasi pertama adalah saat Martin Luther di tahun 1600-an mereformasi kekristenan Gereja Katolik yang membawa kepada kelahiran Gereja Protestan. Sayangnya, bentuk Gereja Protestan di masa kini sudah kembali jauh dari yang kita ketahui di Kisah Para Rasul. Karenanya, diperlukan reformasi yang lebih dalam dan menyeluruh.

 

 

Seberapa penting karakter LOYALITAS?

Ketika badai masalah melanda sebuah gereja, apakah kita masih mau bersama-sama atau meninggalkan gereja tersebut? Ketika badai pencobaan menyerang tim pelayanan, apakah kita tetap berjuang atau meninggalkan tim tersebut? Ketika terjadi badai tantangan dalam keluarga, apakah kita terus mendukung dan berkorban bagi keluarga atau lari meninggalkannya? Ketika kepemimpinan di atas kita terpuruk, apakah kita tetap mendukung atau meninggalkan? Setiap orang memiliki pengalaman maupun alasan yang berbeda-beda dalam berespons menghadapi sebuah situasi sulit. Apa pun pengalaman kita di masa lalu, di baliknya ada sebuah karakter yang disebut loyalitas.

 
More Articles...

GOD's ETERNAL PURPOSE

Abbalove Monthly Updates

CINTA INDONESIA

  • Metanoia Publishing
  • Metanoia Publishing
  • Metanoia Publishing